Peran Da’i Desa Terhadap Kesadaran Masyarakat Yang Tidak Menutup Aurat Di Desa Tungkal IV Desa Kecamatan Seberang Kota Kabupaten Tanjung Jabung Barat
Keywords:
Peran Da'i, Kesadaran Menutup Aurat, Dakwah Desa, Hambatan Dakwah, Masyarakat PedesaanAbstract
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Da'i Desa dalam meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menutup aurat, mengidentifikasi hambatan yang dihadapi, serta mendeskripsikan solusi mengatasi hambatan tersebut di Desa Tungkal IV Desa Kecamatan Seberang Kota. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena masyarakat yang masih belum menutup aurat dalam keseharian, di mana menutup aurat dipahami sekadar budaya yang dilakukan hanya pada kegiatan tertentu seperti pengajian atau yasinan. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian lapangan, data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara semi-terstruktur dengan kepala desa, da'i desa, ketua masjid, ketua majelis ta'lim, dan jamaah, serta studi dokumentasi. Analisis data mengikuti model Miles dan Huberman yang terdiri dari reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Da'i Desa menjalankan tiga peran strategis: sebagai muballigh yang menyampaikan pesan dakwah tentang kewajiban menutup aurat dengan menjelaskan dalil dan hikmahnya; sebagai mu'allim yang mengajarkan pemahaman keagamaan secara sistematis melalui kajian kitab Fathul Mu'in di majelis ta'lim dan pengajian rutin; serta sebagai mu'addib yang menanamkan nilai-nilai kebaikan dan akhlakul karimah melalui keteladanan pribadi. Hambatan yang dihadapi meliputi faktor lingkungan (pengaruh teman sebaya, keberagaman suku dan bahasa, perbedaan pendidikan), faktor ekonomi (kesibukan masyarakat sebagai petani dan pekebun), dan faktor budaya (tradisi mandi pengantin dan mandi 7 bulanan yang melibatkan keterbukaan aurat). Solusi yang diterapkan meliputi memperbanyak kegiatan keagamaan di berbagai waktu dan tempat, menggunakan bahasa Indonesia yang mudah dipahami, serta memberikan nasehat secara perlahan dengan bahasa halus ketika mengoreksi tradisi budaya. Penelitian ini berimplikasi pada pengembangan strategi dakwah yang responsif terhadap kondisi sosial-ekonomi-budaya masyarakat desa